Kenapa saya Islam? Pertanyaan yang paling mendasar bagi seorang muslim itu
seharusnya membuat kita berfikir, apa yang menyebabkan kita sekarang memeluk
agama Islam. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah banyak di antara kita yang
sudah menganut Islam sejak lahir dikarenakan dilahirkan di tengah-tengah
keluarga muslim. Tetapi kadang kita merasa hambar dengan keIslaman diri kita.
Ada yang mengatakan bahwa semua ini adalah suatu fenomena yang terjadi bila
kita berIslam karena keturunan. Wallahu’alam. Atau kita yang belum
mengerti hakekat keIslaman kita?
Mengapa aku Beragama?
Filosof
Saint Augustin dalam bukunya Falsafatul Adyan (Filsafat Agama)
mengatakan: “Mengapa aku beragama? Sesungguhnya aku belum pernah sekalipun
menggerakkan bibirku dengan pertanyaan ini kecuali aku melihat diriku tergiring
untuk menjawabnya dengan jawaban ini, yaitu aku beragama karena aku tidak dapat
menentang hal itu, karena hidup beragama adalah sesuatu yang lazim secara moril
termasuk di antara kelaziman pribadi.”
1. Kebutuhan akal manusia untuk mengetahui hakekat
keberadaan dirinya
Manusia sebagai makhluk yang
cerdas dan berakal selalu diliputi rasa keinginan yang besar seputar penciptaan
dirinya. Manusia senantiasa didera pertanyaan-pertanyaan yang perlu segera
dijawab demi kepuasan hati dan jiwanya seperti asal-usul penciptaan dirinya,
kemanakah ia akan pergi setelah kematian, apakah alam kematian itu, serta
tujuan ia diciptakan ke dunia ini. Kesemua pertanyaan di atas merupakan
pertanyaan yang wajar karena manusia memang dianugerahi akal dan rasa
keingintahuan yang besar. Namun karena keterbatasannya pula, manusia tidak
sanggup mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Walaupun
demikian kekurangan ini dapat terpenuhi dengan adanya agama (Islam). Agamalah yang dapat menjawab berbagai
persoalan diatas, mulai dari proses penciptaan manusia (Q.S Mursalat 20-23),
perihal hidup setelah kematian (Q.S Az Zalzalah 6-8) serta keberadaan alam
akhirat (Q.S An Naml 66).
2. Kebutuhan fitrah manusia terhadap kesehatan jiwa
dan kekuatan rohani
Secara fitrah, manusia memiliki kebutuhan akan 3 hal yaitu kebutuhan
akal, jasmani dan ruh. Satu saja tidak terpenuhi maka manusia akan merasa
bimbang jiwanya, ruhaninya senantiasa lapar, fitrahnya senantiasa kehausan
serta akan merasakan kehampaan dan tidak memiliki tujuan hidup. Semuanya akan
terus ia rasakan sampai ia menemukan keyakinan tentang Allah. Pada saat itulah
ia akan benar-benar merasakan telah menemukan jati dirinya. Oleh sebab itu
Al-Qur’an menjadikan agama sebagai fitrah manusia itu sendiri (Q. S Ar Ruum
30).
Sebenarnya apa hakekat dari seorang ber-Islam? Makna Al-Islam berasal dari kata
sa-la-m yang berarti selamat atau damai, di dalam Al Qur’an kata tersebut
kemudian digunakan dengan beberapa tambahan atau perubahan misalnya
1. Aslama : menyerah (Q.S Ali
Imran 83)
2. istaslama-taslim-mustaslimun
: penyerahan total kepada Allah (Q.S An-Nisaa’65)
3. Saliim : bersih, suci (Asy
Syu’araa 89, Ash-Shaaffat 84)
4. Salam : kesejahteraan (Az Zumar 73)
5. Salm : damai (Muhammad 35)
Islam adalah agama yang paling benar, yang sempurna, agama yang
diridhoi oleh Allah Penguasa alam semesta. “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu…“(Q.
S Al Maidah 3)
Karakteristik Islam :
1. mudah,
rasional, dan praktis
2. bersatunya
benda dan rohani
3. jalan
hidup yang sempurna
4.
ada keseimbangan antara perorangan dan kemasyarakatan
5. universal
dan kemanusiaan
6. stabil
dan berkembang
7. ajarannya
terpelihara dari perubahan, dijamin 100% sampai hari qiyamat
Mengapa
Islam adalah agama yang paling benar? Karena Islam memuat aturan-aturan yang
telah disempurnakan dari kitab-kitab terdahulu dan asli, langsung dari Allah
Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Sementara agama-agama lain merupakan
campuran dari kitab yang asli dan buah pemikiran manusia (Q.S Al An’am 153).
Misal di bidang ekonomi, dalam Islam
jual beli dihalalkan bahkan dianjurkan namun riba diharamkan, atau dalam sistem
perbankan Islam tidak ada yang namanya bunga, karena bunga akan menyulitkan
orang yang mengembalikan pinjaman. Sedangkan pada agama dan kepercayaan lain, bunga dan riba diperbolehkan
(Q.S Al Baqarah 275). Dari Jabir r.a katanya: Rasulullah SAW mengutuk pemakan
riba, yang menyuruh memakan riba, juru tulis pembuat akte riba dan
saksi-saksinya. Sabda beliau, mereka itu sama saja (dosanya).
Di bidang politik, dalam Islam tidak dibenarkan politik
kotor, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tetap saja ada
rambu-rambu yang harus ditaati dalam politik. Seperti yang pernah dilakukan
oleh Rasulullah pada zamannya. Atau pengangkatan pemimpin, dalam Islam yang
menjadi seorang pemimpin adalah seorang laki-laki yang perilakunya sangat baik,
yang pemahamannya paling bagus dan sejumlah kriteria lain. Pada agama dan
kepercayaan lain hal-hal tersebut tidak diatur (Q.S Az Zumar 23).
Jadi, pada
intinya semua segi kehidupan dalam Islam selalu diatur, mulai dari hal yang
paling sederhana hingga masalah kompleks sekalipun yang bersumber dari Al
Qur’an atau sunnah Rasulullah. Ini yang disebut dengan sempurnanya Islam.
Wallahu a'lam
Mumtahana, 20 oktober 2013
















0 komentar