Jumat, 25 Oktober 2013

Budaya Inovasi Tiada Henti (Prof. Achmad Subagio)

Prof. Dr. Achmad Subagio, MAgr., Duta IPTEK, Pelopor tepung MOCAF serta Guru besar Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian Universitas Jember menjadi pembicara dalam Ceramah ilmiah di Universitas Jambi, Jum'at (25/10). 

Aula Rektorat Unja, 25 Oktober 2013. Ceramah Ilmiah yang diadakan oleh Lemlit Unja. hadir sebagai pemateri dan nara sumber Bapak Prof. Achmad Subagio (Penerima Anugerah Duta IPTEK 2013) dan Ibu dari Kemenristek. 

Dalam ceramahnya pak Prof menjelaskan untuk bisa berhasil, seorang peneliti harus fokus dalam melakukan penelitiannya dan berusaha mengembangkan jejaring agar bisa berkembang lebih baik lagi. Peneliti harus menguasai bidang ilmunya dan memiliki wawasan yang luas tentang bidang ilmu lainnya. Demikian dikatakan Prof. Dr. Achmad Subagio, MAgr., saat hadir dalam acara ceramah ilmiah yang diselenggarakan  di Aula rektorat Unja, jum'at (25/10). Acara yang dimoderatori Ketua Lemlit Unja itu dihadiri oleh para pimpinan termasuk hadir Rektor Unja (Prof. Aulia Tasman), dosen dan perwakilan mahasiswa  Unja dari seluruh fakultas. “Peneliti juga harus membuang jauh sifat ego. Prinsip egaliter harus benar-benar meresap dalam jiwa peneliti. Peneliti harus terbuka, mengakui bahwa kita memiliki kekurangan yang dapat diisi oleh kemampuan dan pengetahuan orang lain,” ujar Pak Prof.

Kembalikan Kejayaan Singkong (Inovasi yang dilakukan oleh Pak Prof.Subagio) 

Pada kesempatan itu, Prof. Achmad menceritakan kisah penelitian tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) yang dilakukannya sejak tahun 2004. Tepung dari hasil olahan singkong itu dapat dijadikan bahan baku pembuatan berbagai macam makanan seperti halnya tepung terigu. Tepung Mocaf yang diterima oleh masyarakat itu dipandang telah membawa kejayaan singkong di negeri ini. Tak heran bila Prof. Achmad kerap dipanggil “Si Anak Singkong” (kok seperti pak Chairul Tanjung ya?). Doktor ahli kimia pangan itu pun telah mempresentasikan temuannya tersebut di dunia internasional dan telah diakui.

Mengapa tertarik meneliti tepung gaplek? Menurut dosen di Fakultas Teknologi Hasil Pertanian di Universitas Jember itu, tepung gaplek atau tepung singkong selama ini dikesankan inferior. "Kesannya selama ini, kalau orang sampai makan gaplek itu kok miskin banget," Padahal, lanjut Subagio, singkong adalah tanaman yang sangat banyak di Indonesia. "Bahkan, menurut data FAO (lembaga PBB yang membidangi masalah pangan) 2004, Indonesia merupakan produsen ubi kayu terbesar di dunia setelah lima negara lain." Karena itu, singkong sebenarnya bisa menjadi alternatif bahan pangan ketika terjadi krisis pangan. Tapi, orang telanjur lekat dengan kesan bahwa kalau makan tepung gaplek itu ndeso banget," Dari sinilah lantas muncul tekad pak prof. Subagio untuk mengembalikan kejayaan singkong sebagai bahan makanan asli Indonesia. 

Sejak itulah pak prof mulai meneliti tepung gaplek pada 2004. "Saya mulai meneliti ketika berada di Belanda, mengikuti training tentang food safety tiga bulan," ceritanya. Dari Belanda, Pak Prof melanjutkan training ke Inggris, tepatnya di sebuah kota dekat Liverpool. "Di Inggris, saya mempelajari bagaimana mengemas sebuah produk baru yang selanjutnya saya terapkan untuk produk baru modifikasi dari tepung gaplek," katanya. Setelah setahun meneliti, akhirnya pak prof berhasil memodifikasi tepung gaplek menjadi bahan yang kaya manfaat. Temuannya diberi nama Modified Cassava Flour (Mocaf), yakni tepung ubi kayu termodifikasi. 

Apa bedanya dengan tepung gaplek? Subagio menerangkan, tepung gaplek, pembuatannya lebih sederhana. Yakni, ubi kayu dikeringkan, lalu digiling menjadi tepung. "Kalau Mocal, melalui beberapa proses kimia," katanya. Di antaranya, ubi kayu difermentasikan dulu. "Difermentasikan di sini bukan berarti dibuat tape lho," katanya. Setelah itu, dikeringkan. Mengeringkannya, 3/4 menggunakan matahari. "Kita juga menggunakan alat pengering hibrida agar terjamin hieginitasnya," katanya. Setelah dikeringkan, ubi ketela itu akan berbentuk chips (seperti keripik). Selanjutnya, baru digiling, diayak (disaring), dikemas menjadi produk tepung serbaguna. "Bedanya dengan tepung gaplek, kalau tepung gaplek bau ketelanya masih dominan sehingga kadang baunya apek," katanya. "Tapi, tepung Mocaf kami cita rasa ketelanya hampir nggak ada. Sekitar 70 persen rasa singkongnya hilang," jelas pria yang juga berhasil meneliti koro sebagai pengganti kedelai dan telah diterapkan di Afrika Selatan itu. Berkat proses kimia yang diterapkan pada Mocaf, Pak Prof berhasil menjadikan tepung gaplek memiliki tingkat kekentalan dan tingkat elastisitas adonan yang tinggi. "Kalau tepung gaplek itu tidak bisa dijadikan bahan pembuatan kue, tepung Mocaf buatan kami bisa. Kini Pak Prof mengaku mulai kewalahan menerima pesanan dari sejumlah industri pembuat kue. "Menggunakan tepung Mocaf memang lebih rendah biayanya ketimbang tepung terigu," katanya. Sebagai perbandingan, harga tepung terigu sekitar Rp 4.600 per kilogram. Tepung Mocaf sekitar Rp 3.200 per kilogram. "Kandungan karbohidrat tepung Mocal juga lebih tinggi dari tepung terigu," lanjutnya.


Salah satu turunan dari tepung Mocaf yang kini sedang dikembangkan oleh Prof. Achmad adalah “Beras Cerdas”, yaitu beras tiruan yang diharapkan dapat menjadi alternatif pilihan bagi beras padi. Sebagaimana diketahui, konsumsi beras masyarakat Indonesia merupakan yang paling tinggi di dunia. Bahan dasar “Beras Cerdas” yang terbuat dari singkong membuat beras tersebut lebih ramah bagi penderita diabetes.
Prof. Achmad yang lulus magister dan doktor dari Osaka Perfecture University, Jepang itu tidak hanya berhenti pada penelitian di laboratorium saja. Ia pun menerapkan hasil penelitiannya untuk membangun bisnis. Saat ini, ia telah sukses mengembangkan bisnis kuliner “Mister Te” yang menjual berbagai pangan dari tepung Mocaf.  ia pun membuka “Warung Sego Telo” untuk produk beras cerdas yang dihasilkannya. 

Disela-sela diskusi Pak Prof sempat mengatakan bahwa "penghasilan saya dari singkong saat ini lebih besar dari gajih profesor yang diterima. Saya hidup dari Singkong dan selamanya dari singkong (wajar bapak ni dijuluki si Anak Singkong.he.he)" imbuhnya.  Dalam menutup ceramahnya beliau juga mengatakan kepada bapak/ibu dosen yang hadir “Jadi dosen itu harus sejahtera. Apalagi saat ini dana penelitian tersedia cukup memadai, tinggal kita manfaatkan sebaik-baiknya. Dosen tidak kaya dari proyek penelitiannya, tetapi dia bisa sejahtera dari hasil penelitiannya tersebut,” 

Diakhir acara Pak Prof juga menyampaikan Prinsip Hidupnya :
(1) "Maju Terus Pantang Mundur" Idiom ini tentu hanya mempunyai makna yang luas, dimulai dari niat, tekad, usaha, bersyukur dan tawakal.
(2) "Inovasi Tiada Henti" Ini terkait dengan sifat-sifat terus belajar, egaliter, mau mengubah diri, dan tawadhu.

Luas Biasa sangat menginspirasi Pak Prof. Ngatur sembah nuwun ilmune....! 
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2011 Sahabat Petani Jambi
Designed by Blog Thiet Ke
Posts RSSComments RSS
Back to top